MENGHISAB DIRI DALAM MEMBINA HUBUNGAN RUMAH TANGGA



Oleh : Yanyan Mulyanto
Membina rumah tangga tidak selamanya terjalin atau berjalan secara harmonis, di tengah perjalanan kadang mengalami beberapa kendala atau beberapa permasalahan yang sifatnya tidak menyenangkan di dalam sebuah rumah tangga itu sendiri.

Untuk itu, masalah di dalam rumah tangga dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan, dan tetap menjaga itikad baik untuk saling bermuhasabah atau intropeksi diri dengan niat untuk memperbaiki masing-masing kekurangan. 

Terdapat janji-janji yang disebut Al Quran dengan penyebutan perjanjian yang amat besar/kuat/sakral, dalam Allah swt menyebutnya dengan istilah miitsaaqan ghaliizhaa dan tidaklah banyak perjanjian yang kuat ini. Di Al Quran miitsaaqan ghaliizhaa (perjanjian yang amat besar) hanya terdapat 3 (tiga) yang masing-masing diperuntukan dan diabadikan di ayat yang berbeda, yaitu : Seperti Firman Allah SWT:

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (miitsaaqan ghaliizhaa). An Nisa (4) : 21

Sedangkan perjanjian yang kuat (miitsaaqan ghaliizhaa) disebutkan di 2 surat lainnya yaitu surat QS Al-Ahzab (33):7) dan surat QS An-Nisaa (4): 154.

Dan bagaimana menyikapi pertikaian dalam rumah tangga Allah SWT berfirman : 

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. An Nisa (4): 34

Dan begitupun Allah SWT mengatur dalam firmanNya bagi orang ketiga/penengah/Hakam yang akan menengahi pertikaian suami istri apabila terjadi pertikaian diantara mereka, yaitu:

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. An Nisa (4): 35

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. An Nisa (4): 124

Karena saking besar dan sakralnya perjanjian pernikahan tersebut maka tidak aneh bahwa pekerjaan setan yang paling tinggi derajatnya adalah kalau bisa memisahkan hubungan suami istri. Perceraian, meskipun halal (dengan sebab tertentu), merupakan hal yang sangat dibenci Allah. Perceraian adalah salah satu misi terbesar iblis. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim Rasullullah bersabda :

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian dia mengirimkan pasukannya. Maka yang paling kepadanya ialah yang paling besar fitnahnya. Lalu datanglah salah seorang pasukannya melapor, “aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “kamu belum berbuat apa-apa.” Lalu datanglah pasukan lain melapor, “aku tidak membiarkannya hingga aku menceraikan dia dan istrinya”. Iblis pun mendekat kepada pasukan itu dan memujinya, “bagus”(HR. Muslim)

Setan bisa masuk diarah mana saja untuk membuat situasi memanas, apakah lewat orang tua,  keluarga, teman atau bahkan ustad sekalipun. Untuk itu mari sama sama berhati-hati dan saling bermuhasabah untuk kebaikan didunia maupun akherat. Terdapat perintah Allah SWT agar kita selalu intropeksi diri/muhasabah atau menghisab diri atas apa yang telah kita perbuat. Yaitu Allah berfirman :  
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Al-Hasry (59): 18
 “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”. Al-Hasry (59): 19

Demikian, mudah-mudahan langkah yang ditempuh dalam membina rumah tangga dapat semakin kokoh dan selalu di ridhoi Allah SWT. Aamiin.

Wassalam
Yanyan TG486 – Leader

Komentar